The 3rd Civilizations Harmony Forum
“Harmony in Diversity, Human Fraternity –
Towards a Sustainable Human Civilization”
The 3rd Civilizations Harmony Forum diselenggarakan pada 29 Juni 2026 di Bali, Indonesia, dengan mengusung tema “Bhinneka Tunggal Ika, Dunia Satu Keluarga—Menuju Kelestarian Peradaban Umat Manusia.” Forum ini dihadiri oleh sejumlah tokoh dan pejabat pemerintahan, pakar dan akademisi, tokoh masyarakat, pimpinan organisasi, perwakilan lembaga, serta generasi muda dari berbagai negara, antara lain Indonesia, Tiongkok, Amerika Serikat, Mesir, Inggris, Nepal, Iran, Australia, Singapura, dan Malaysia.
Presiden ke-5 Republik Indonesia, Ibu Megawati Soekarnoputri, menyampaikan sambutan tertulis yang dibacakan oleh Gubernur Provinsi Bali, Bapak Wayan Koster. Dalam sambutannya, beliau menyerukan agar mewujudkan Taman Sari Dunia dengan mempersiapkan generasi muda yang membangun jembatan, merawat dan menyelamatkan bumi, serta memperkuat persaudaraan antarbangsa.
Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Denpasar, Bapak Zhang Zhisheng, dalam sambutannya mengajak semua pihak untuk meningkatkan pemahaman dan membangun kepercayaan melalui dialog antarperadaban, memperkuat persatuan dan mengupayakan konsensus melalui pertukaran antarkebudayaan, serta mendorong pembangunan komunitas senasib sepenanggungan umat manusia melalui dialog dan interaksi antarperadaban.
Dalam pidato kunci, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Republik Indonesia 2019-2024, Profesor Mohammad Mahfud MD, mengemukakan bahwa perkembangan Islam di Indonesia secara bertahap membentuk karakter yang khas, yakni toleran, terbuka, dan inklusif. Sejalan dengan perkembangan tersebut, Indonesia semakin sering dipandang oleh kalangan internasional sebagai laboratorium terbaik untuk membangun toleransi dan merajut kebersatuan dalam keberbedaan yang disemboyankan dengan Bhinneka Tunggal Ika.




























Ketua Sustainable Development Solutions Network PBB, Profesor Jeffrey Sachs menghadiri forum secara daring dan menyampaikan pidato kunci. Sementara itu, mantan Perdana Menteri Mesir, Dr. Essam Sharaf, menyampaikan sambutan melalui rekaman video.
Kegiatan ini juga menghadirkan para narasumber dari dalam dan luar negeri diantaranya, Ibu Omi Komaria Madjid (Ketua Dewan Pembina Nurcholish Madjid Society), Prof. Musdah Mulia (Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Pendiri Indonesian Conference on Religion and Peace), Prof. Alimatul Qibtiyah (Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Associate Director International Consortium for Religious Studies), Dr. Budhy Munawar-Rachman (Anggota Dewan Pendiri Nurcholish Madjid Society, Penasihat Ahli Menteri Agama Republik Indonesia), Prof. I Ketut Sudarsana (Rektor Universitas Udayana), Prof. Dr. I Gede Suwindia (Rektor Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja Bali), Dr. Samsul Maarif (Direktur International Consortium for Religious Studies (ICRS)), Prof. Niu Xiping (Wakil Presiden International Confucian Association), Dr. Sarbottam Shrestha (Wakil Ketua Nepal Arniko Society), Prof. Greg Barton (Rektor Deakin University Lancaster University Indonesia Campus), Dr. Abdolreza Alami (Dosen Senior Universiti Teknologi MARA, Malaysia).




























Para pakar yang hadir berpandangan bahwa, di tengah dinamika situasi internasional yang semakin kompleks dan meningkatnya berbagai tantangan global, penguatan pertukaran dan pembelajaran antarperadaban, serta pendalaman pemahaman dan kerja sama lintas agama dan budaya, memiliki arti penting dan relevansi nyata bagi pemeliharaan perdamaian dunia serta peningkatan kesejahteraan bersama.
Bersamaan dengan penyelenggaraan forum utama, turut diselenggarakan Subforum Pemuda serta serangkaian kegiatan interaktif lintas budaya yang mencakup pengenalan pengobatan tradisional Tiongkok, jamu sebagai warisan pengobatan tradisional Indonesia, seni kaligrafi dan lukisan Tiongkok, pertunjukan musik guqin, seni kaligrafi aksara dan lukisan Bali, serta pameran buku teks Pendidikan Karakter dan Moral Etika. Beragam kegiatan tersebut memperkaya rangkaian acara forum sekaligus menyediakan wadah interaksi yang inklusif dan multidimensional untuk mendorong pertukaran budaya, memperdalam saling pengertian, serta memperkuat dialog dan pembelajaran antarperadaban.
