Beranda Tentang Kami Dialog Harmoni Kegiatan Budaya Kegiatan Pendidikan Pelayanan TCM Hubungi Kami

The 1st Civilizations Harmony Forum
“Building a Pathway to Harmonious Coexistence”

Yayasan Prajna Harmonis dan Wahid Foundation bersama-sama menyelenggarakan The 1st Civilizations Harmony Forum & Indonesia Forum for the 10th Nishan Forum on World Civilizations dengan tema “Building A Pathway To Harmonious Coexistence” pada 15 Juni 2024 di Hotel Merusaka Nusa Dua, Bali.

Forum ini mendorong dialog antar peradaban dunia yang bertujuan untuk menjaga keberagaman peradaban serta membangun komunitas global yang rukun dan harmonis. Direktur Yayasan Prajna Harmonis, Bapak Kasino, dalam welcoming remarks menyampaikan bahwa bulan Juni memiliki makna yang istimewa. Di mana 1 Juni adalah Hari Lahir Pancasila, dan 10 Juni ditetapkan oleh PBB sebagai Hari Internasional untuk Dialog Antar Peradaban.

“Pancasila sebagai dasar negara dan falsafah hidup bangsa merupakan kristalisasi nilai dan kebijaksanaan yang bersumber dari sejarah dan budaya bangsa Indonesia sejak dahulu,” tutur Bapak Kasino. Ia menjelaskan bahwa saat ini umat manusia sedang terpuruk dalam konflik dan perpecahan, sehingga dibutuhkan komitmen bersama untuk membangun dialog antar peradaban sebagai upaya mencari jalan keluar bagi koeksistensi yang harmonis.

foto-forum-1-10 foto-forum-1-20

Senada dengan Bapak Kasino, Direktur Wahid Foundation, Ibu Yenny Wahid, menyampaikan bahwa cita-cita KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) untuk mewujudkan perdamaian di seluruh dunia menjadi inspirasi yang terus diperjuangkan.

“Gus Dur memahami bahwa kekuatan Indonesia terletak pada keberagamannya. Beliau membayangkan sebuah kehidupan masyarakat di mana orang-orang dari berbagai agama, budaya, dan latar belakang hidup berdampingan, diikat oleh komitmen bersama untuk toleransi dan saling pengertian,” tutur Ibu Yenny melalui sambutan daring. “Marilah kita mengambil inspirasi dari semangat Indonesia. Mari kita rangkul keberagaman sebagai sumber kekuatan dan merayakan ikatan yang menyatukan kita sebagai satu keluarga manusia.”

Prof. Kishore Mahbubani (Inisiator Asia Peace Programme dan Insinyur Kehormatan National University of Singapore) menjelaskan bahwa Asia Tenggara adalah laboratorium multi-peradaban karena dari 670 juta penduduk terdapat lebih dari 250 juta Muslim, 150 juta penganut Kristen, 150 juta penganut Buddhisme, Taoisme, Konfusianisme, dan Hindu. “Setiap peradaban utama dunia diwakili di Asia Tenggara termasuk peradaban Barat dan semua tetap hidup berdampingan dalam perdamaian,” tutur Prof. Kishore saat memberikan sambutan khusus secara daring. “Interaksi antara berbagai kelompok etnis dan agama telah mendorong inovasi dan kreativitas, serta memperkaya kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Keragaman ini bisa menjadi sumber kekuatan yang luar biasa jika dikelola dengan bijak.”

Kegiatan ini juga menghadirkan para narasumber lain dari dalam dan luar negeri diantaranya, Dr. Made Mangku Pastika (Mantan Gubernur Bali), Dr. Muhammad Najib Azca (Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), Prof. Alimatul Qibtiyah (Guru Besar UIN Sunan Kalijaga), Prof. Wen Haiming (Wakil Direktur Nishan Center for Confucian Studies), Prof. Kong Deli (Direktur China Confucius Research Institute), Prof. Zhang Fenglian (Wakil Direktur Shandong Academy of Social Sciences), Dr. Chin Chong Foh (Associate Professor, Universiti Tuanku Abdul Rahman of Malaysia), Dr. I Made Sendra (Direktur Tourism Confucius Institute Universitas Udayana), Dr. I Ketut Donder (Dosen Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar).